home | software | blog | photo



about | contact


 

blog: my indonesia
 


back to previous page <<

Save Our Nation..!!!

Oleh: toni satriyantono [submitted: September 20, 2006]

Saya menulis blog ini karena risih selepas melihat acara Metro TV semalam, yaitu acara “Save Our Nation” yang dipandu Rizal Mallarangeng dan menghadirkan 2 narasumber Sri Adiningsih dan Didik Rachbini (Rabu, 20 September 2006 jam 20.00 WIB).

Acara ini menjadi jauh dari makna judul acaranya “Save Our Nation” dan semata dikarenakan faktor pemandu acaranya. Acara ini terlalu amat sangat kental dengan nuansa propaganda globalisasi, neo liberalisme, dan kapitalisme ala Rizal Mallarangeng. Rizal Mallarangeng semua orang sudah faham, adalah antek globalisasi dan neo liberalisme, yang di forum apapun selalu dengan arogan dan merasa paling benar mengatakan bahwa bangsa Indonesia harus segera sadar untuk segera menerima arus globalisasi dan perdagangan bebas tanpa syarat, karena itu adalah syarat mutlak Indonesia untuk bersaing dan berkompetisi di era modern. Globalisasi adalah sarana Indonesia untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, liberalisme adalah pilihan satu-satunya Indonesia untuk bisa dihormati bangsa-bangsa lain. Proteksi, subsidi, ekonomi kerakyatan menurut dia adalah pandangan kuno yang sudah tidak relevan dan harus ditinggalkan.

Rizal seolah tidak mau membuka mata sedikitpun atas berbagai kerugian yang diderita karena paham liberalisme yang telah banyak merasuk di Indonesia. Carefour dan Giant Supermarket yang mematikan pasar tradisional, impor beras besar-besaran yang merugikan petani, masuknya pakaian-pakaian jadi dari Cina yang mematikan industri garmen dalam negeri, kenaikan harga BBM yang ternyata dipicu kepentingan investor asing dan nyata-nyata merugikan rakyat serta bahkan terbukti meningkatkan angka kemiskinan Indonesia. Rizal juga seolah tidak ingin tahu bila murahnya harga pesawat yang bisa dinikmati di Indonesia sekarang sama sekali tidak memerlukan paham globalisasi, sebagian besar bangsa Indonesia sekarang ini adalah mereka yang hidup di pedesaan yang nyata-nyata tidak memerlukan bisnis ala globalisasi, laju perekonomian rakyat di pelosok tanah air sama sekali tidak memerlukan paham liberalisme pasar yang pada akhirnya hanyalah paham untuk menguntungkan para kapitalis dan pemodal.

Maka jika kita menyimak acara “Save Our Nations” semalam, Rizal yang seharusnya memandu acara, justru mendominasi acara dengan propagandanya, walau para pengamat yang diundangnya acap kali menyangkal apa yang dikatakan Rizal. Dan yang sangat menggelikan adalah ketika Rizal dengan bodoh menayangkan sebuah hasil polling untuk menunjukkan bahwa walaupun LSM-LSM penentang IMF dan Bank Dunia aktif berdemonstrasi di berbagai tempat, namun rakyat tidaklah mendukung mereka, karena hasil polling lebih menunjukkan simpati kepada hasil kerja IMF dan Bank Dunia. Hasil polling mana yang ditunjukkan Rizal? Ternyata hasil polling sebuah lembaga survey di New York!! Alangkah bodohnya... Ketika dia memandu dialog “Save Our Nations” di Metro TV, maka dia pikir ini adalah acara “Save Our America..” !!??

Sangat disayangkan Metro TV menayangkan acara berbau propaganda seperti ini dengan pemandu acara berwawasan dangkal dan sangat arogan karena merasa paling benar tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Saya kira bila acara ini berjudul “Save Our Nations”, maka saya berpikir Indonesia harus diselamatkan dari orang-orang seperti Rizal Mallarangeng ini. Orang-orang seperti Rizal, Aburizal Bakrie dkk., yang didukung oleh donor-donor berpaham neo liberalisme pendukung globalisasi dan pasar bebas, kita sadari saat ini telah menguasai urat nadi panggung politik dan pemerintahan Indonesia. Kita mengkhawatirkan sepak terjang mereka memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan segelintir elit dan para pemilik modal kaum kapitalis global, serta justru menyengsarakan sejumlah besar masyarakat Indonesia lainnya.

Saya bukannya anti globalisasi sepenuhnya, karena bagaimanapun sebagian bangsa Indonesia tetap bisa mengambil keuntungan di dalamnya. Tetapi menerima paham globalisasi dan liberalisme tanpa reserve, apalagi sampai tergoda dan terjebak dalam belenggu utang yang ditawarkan IMF dan Bank Dunia hingga kita harus bertekuk lutut di hadapan mereka, ini sangat tidak bisa diterima. Kita patut waspada, karena bagaimanapun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak ingin terjebak dalam iklim persaingan yang saling mematikan, tetapi jauh lebih membutuhkan daya tahan dan kestabilan iklim usaha untuk kehidupan perekonomian yang lebih menyejahterakan.

***

back to previous page <<