|
blog: my indonesia
back to previous page <<
Negeri Tanpa Identitas
Oleh: toni satriyantono [submitted: April 05, 2007]
Hari ini pemred playboy indonesia dibebaskan dari segala tuntutan. Apa yang bisa dibanggakan? Erwin Arnada bilang ini adalah bentuk apresiasi dari kebebasan pers di negeri Indonesia. Hiks, ternyata kebebasan pers telah menjadikan kebanyakan insan pers negeri ini bebas melakukan apa saja, bebas menulis apa saja, bebas menginterpretasikan versi jurnalisme mereka sendiri-sendiri. Hukum pasar lah yang akan menentukan mana berita yang disukai dan mana yang tidak. Dan negeri ini perlahan telah kehilangan identitas, hancur oleh kekuatan modal, paham kapitalisme dan kebebasan.
Lihat media kita, sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat, kontroversi dijadikan bahan jualan laris manis untuk tontonan di berbagai media, cetak maupun elektronik. Bentrokan aparat, demonstrasi anarkis, perkelahian, pertengkaran, perselingkuhan, perceraian, cekcok suami istri, dst., dst. Ini hukum supply dan demand. Semakin kontroversial sebuah berita, semakin tinggi nilai jualnya, semakin tinggi rating pemirsanya, semakin besar sharing sponsornya. "Good News is Bad News", ini kata wartawan teman saya, berita baik-baik ngga akan laku, berita kontroversial lah yang dicari.
Lalu, di mana kita bisa membeli majalah playboy indonesia? Di emperan toko, di kios majalah depan sekolah. Aneh, padahal di negeri asalnya diperdagangkan amat terbatas dan harus memperlihatkan ID untuk membelinya. Dimana kita bisa mabok? Di warung pinggir jalan, atau sambil nyetir pun di sini bisa. Di negara barat, driving under influence of alcohol, hukumannya sangat berat. Negeri kita ternyata lebih barat dari negara barat.
Siapa bilang kita sudah merdeka? Kita ternyata lebih suka tunduk kepada globalisasi. Lihat media kita yang dibanjiri majalah asing dalam berbagai versi yang diindonesiakan. Siapa yang suka acara extravaganza, acara tiruan saturday night livenya NBC? Mana yang lebih lucu? Lalu kita bikin acara miss-missan, ikut miss universe, bikin acara prom night, bikin acara indonesian idol. Kita nonton mtv, pake ipod, ngopi di starbucks, melakukan free sex biar kayak james bond... Bangsa yang lebih suka dijajah dan hanya suka meniru.
Dan negeri ini akan kehilangan segenap identitas, tidak ada lagi pagar idealisme, tidak ada lagi benteng kebanggaan, negeri tanpa generasi yang bangga dengan identitasnya sendiri, negeri dengan generasi yang lebih bangga dengan atribut negara lain. Negeri yang hanya suka meniru. Negeri yang ternyata lebih liberal dari negara liberal sekalipun.
Siapa lagi yang bisa kita harapkan? Pemimpin-pemimpin kita kah? Presiden yang tak punya karakter, kepemimpinan yang hanya ingin merangkul semua kepentingan, menengahi konflik, tanpa keinginan memiliki idealisme dan ketegasan untuk selalu membela kepentingan rakyat kebanyakan. Ujung-ujungnya hanyalah kepentingan sesaat untuk pemilihan presiden nanti. Wakil Presiden yang seorang pedagang, tahunya untung dan rugi, jelas dia hanya seorang opportunis pragmatis. Pemimpin-pemimpin, wakil rakyat dan birokrat yang super duper korup dan haus kekuasaan, tidak ada lagi urat malu saat merampok uang rakyat dan memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan sendiri.
Ya ampun, apalagi yang bisa kita banggakan sebagai warga negara Indonesia yang tercinta ini? Sekarang sih saya hanya bisa bangga kita punya Tukul. Semoga masih ada yang lain.., hiks hiks..
(sorry friends, aku hanya bisa menulis, bukan pesimis)
***
back to previous page <<
|