home | software | blog | photo



about | contact


 

blog: life and living
 


back to previous page <<

Selamat Jalan Pak Koes...

Oleh: toni satriyantono [submitted: March 07, 2007]

Duka cita mendalam bersama segenap keluarga besar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, setelah mendengar berita malam ini yang mengkonfirmasi salah satu jenazah terbakar di RS Sardjito Yogyakarta akibat kecelakaan pesawat Garuda di bandara Adisucipto 7/3/2007 tadi pagi adalah guru, panutan, orang tua, dan mantan rektor kami, Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri. Beliau meninggal dalam usia 80 tahun.

Sosok Pak Koes, panggilan akrab kami-kami mahasiswa-mahasiswanya pada masa kepemimpinan beliau di UGM, tentu memberi kesan sangat mendalam. Beliau adalah rektor yang sangat egaliter dan sangat dekat dengan mahasiswanya. Beliau adalah rektor yang melekatkan citra universitas 'ndeso' untuk UGM pada saat itu, citra yang beliau akui justru suatu bentuk penghormatan, karena menunjukkan UGM berorientasi kerakyatan dan perdesaan, dan memang harus begitulah orientasi yang harus dijalankan oleh UGM . Beliau adalah konseptor KKN (Kuliah Kerja Nyata) sebagai pejabat di Departemen P & K tahun 1970an kepada mahasiswa sebelum lulus sarjana, dan di era kepemimpinan beliau di UGM, KKN mahasiswa dijalankan bukan sebagai beban tetapi sebagai panggilan segenap mahasiswa UGM untuk ikut membangun kawasan pedesaan. Walaupun beliau memimpin UGM hanya satu kali masa jabatan (1986-1990, sebelum digantikan oleh Pak Adnan, karena usia beliau yang sudah memasuki masa pensiun), gaya dan citra kepemimpinan beliau berkesan mendalam bagi segenap warga UGM pada saat itu, baik di kalangan dosen, karyawan, alumni, mahasiswa, hingga pedagang kaki lima. Beliau pada waktu itu merangkap jabatan sebagai ketua KAGAMA (Keluarga Alumni UGM). Beliau tidak segan-segan menengok dosen yang sedang sakit atau baru sembuh dari sakit langsung ke rumahnya. Beliau mendukung dan melindungi aktifitas politik mahasiswa di dalam kampus pada waktu itu. Beliau sering tidak segan menunggui diskusi mahasiswa dalam suatu acara seminar yang diselenggarakan oleh mahasiswanya sampai acara selesai. Beliau mendampingi langsung penerjunan mahasiswa-mahasiswa ke desa-desa untuk KKN, mencarikan dana-dana proyek dan sekaligus meresmikan proyek-proyek KKN di desa-desa yang menjadi tujuan KKN. Beliau mengijinkan dan bahkan memfasilitasi pedagang-pedagang kaki lima untuk berjualan di kawasan lingkungan UGM.

Selesainya era kepemimpinan Pak Koes di UGM saat itu sungguh dinilai sebagai kehilangan yang luar biasa. Mahasiswa pun sampai mengadakan demo meminta masa jabatan Pak Koes diperpanjang. Beliau terbukti sebagai pemimpin yang sangat taat pada aturan. Usia yang sudah menjelang masa pensiun membuat beliau tidak mungkin lagi memimpin, walaupun segenap kalangan dosen, karyawan dan mahasiswa UGM waktu itu berharap Pak Koes dapat memimpin UGM kembali untuk masa jabatan yang kedua. Beberapa kalangan menilai sungguh berat beban pengganti Rektor UGM pada waktu itu, karena harus menggantikan rektor yang begitu dicintai dan begitu dekat dengan segenap lapisan warga UGM.

Sampai saat ini, terakhir pada saat peringatan ulang tahun ke 80 Pak Koes tahun lalu, gaya kepemimpinan Pak Koes di UGM selalu dikenang dan dibicarakan. Bukti bahwa ketokohan dan kepemimpinan beliau di UGM hingga saat ini belum bisa tergantikan oleh siapapun. Bukti bahwa beliau betul-betul sangat dicintai oleh UGM serta mereka yang pernah mengenal dekat dengan beliau.

Kesan saya kepada beliau juga saya rasakan mendalam, terutama pada beberapa pertemuan terakhir, dan sekali lagi atas andil Bapak saya lah saya bisa mengenal dan berbincang dekat dengan beliau. Pada saat ayah saya berpulang dan disemayamkan di Balairung UGM, beliau memeluk saya sangat erat, sambil menangis terisak tanpa berkata-kata. Beliau, yang duduk tepat di depan saya, saya lihat sesekali mengusap air mata sambil melepas kacamata pada saat sambutan mengenang Bapak dibawakan oleh kakak saya dan Pak Boma (Ketua Majelis Guru Besar UGM). Hal yang membuat saya haru terkesan, melihat beliau yang ternyata bisa begitu emosional menyikapi peristiwa ditinggal oleh salah satu kolega terdekat. Kedekatan Pak Koes dengan ayah saya memang saya dengar langsung dari cerita-cerita ayah saya, terutama pada saat UGM mendapat citra 'ndeso' dari masyarakat pada saat kepemimpinan beliau. Ayah saya memimpin sebuah pusat penelitan dan studi pedesaan dan kawasan, dan Pak Koes sebagai rektor. Bapak dan Pak Koes memiliki kesamaan visi dan cita-cita, hampir tidak pernah ada perbedaan pendapat. Selalu saling mendukung ide, sekaligus saling membantu dalam implementasi. Citra ndeso UGM pada waktu itu beliau akui juga diperkuat oleh komitmen penelitian-penelitian yang dilakukan dosen-dosen UGM pada masalah-masalah kemiskinan dan pedesaan.

Tahun lalu saya menelepon beliau untuk menjadi salah satu narasumber penulisan buku riwayat hidup ayah saya yang digagas Yayasan Agro Ekonomika. Beliau menyanggupi dan memberikan waktu untuk wawancara yang dilakukan oleh penulis. Berikut beberapa petikan wawancara tersebut:

"Saya sendiri banyak dikenal sebagai konseptor KKN (Kuliah Kerja Nyata). Pandangan saya banyak yang searah dengan konsep-konsep Pak Muby. Sehingga pada saat UGM disebut sebagai universitas "ndeso", bagi kami-kami ini sebutan nama itu merupakan suatu bentuk penghormatan. Karena "ndeso" orientasinya adalah perdesaan, dan memang itulah Gadjah Mada."

"Saya pernah dikritik soal KKN ini, di Gadjah Mada sendiri, mahasiswa kok disuruh bekerja melebarkan jalan, pengerasan jalan, mengangkut batu, itu kan bukan pekerjaan mahasiswa. Saya katakan, apa tidak boleh mahasiswa tangannya kotor, dan yang perlu dilihat itu adalah pada saat mahasiswa dan masyarakat itu bersama-sama menyusun batu, ada interaksi di antara keduanya. Jadi bukan kok mahasiswa calon sarjana kok mengangkat batu, buat apa. Bukan itu persoalannya. Tindakan mereka menyusun batu, bersama-sama masyarakat membuat jembatan dari bambu untuk memudahkan masyarakat dusun yang satu bepergian ke dusun lain, itulah yang merupakan buah interaksi yang akhirnya akan dibawa mahasiswa ketika mereka menjadi sarjana. Itu akan menempel di sanubari setiap lulusan UGM. Ada yang mengatakan, tanpa KKN pun ada yang bisa jadi sarjana, jadi doktor, jadi dosen, ya memang bisa, siapa bilang tidak. Tapi saya sangat sedih kalau mereka akhirnya tidak kenal rakyatnya. Seorang pemimpin yang tidak kenal rakyatnya, kan jadi menyedihkan."

"Saya dengan Pak Muby itu arah pemikirannya selalu sejalan. Kita sama-sama memiliki kesamaan, bahkan ada ungkapan "setengah kata saja sudah cukup" untuk saling memahami pikiran masing-masing. Saya dan Pak Muby adalah orang yang tidak memiliki post-power sindrome. Kami tidak pernah kehilangan momen untuk terus berkarya, kapanpun dan di manapun.."

Kesan mendalam saya kepada Pak Koes tentu banyak terkait kedekatan beliau dengan ayah saya, kedekatan beliau dengan kalangan muda termasuk mahasiswa dan mantan mahasiswanya, semangat beliau untuk selalu mendukung dan mendorong kreatifitas dan kemajuan anak muda, kepemimpinan beliau yang sangat egaliter, tandatangan beliau di kartu mahasiswa saya (walau hanya satu semester), serta kegigihan beliau untuk terus berkarya hingga usianya yang telah lanjut. Kesan begitu mendalam yang memberi teladan yang sangat penting bagi saya dan kalangan muda pada umumnya untuk dapat mencontoh beliau untuk tidak putus meraih prestasi, kapanpun, dimanapun, di usia berapapun.

Sekali lagi putra UGM berpulang mendadak, walau kali ini melalui proses yang cukup tragis dan dramatis. Duka mendalam pasti tidak akan tertahankan. Terimakasih Pak Koes telah hadir dalam salah satu episode indah perjalanan hidup kami. Sosok mu tidak akan kami lupakan, teladanmu akan kami teruskan. Selamat jalan Pak Koes, semoga berbahagia di rumah barumu sekarang, teriring doa tulus dari kami semua.

Ya Allah terimalah Pak Koes di samping Mu, terimalah amalannya, ampunilah dosanya, berilah keluarganya ketabahan dan kesabaran, berilah kami kekuatan untuk terus melanjutkan cita-citanya. Amin.

***

back to previous page <<